Cerita Melahirkan 1 : Menuju RS

Sabtu, 1 Desember 2012
Sabtu pagi, saya jalan-jalan pagi, karena jalan kaki bagus buat bumil yang lagi nunggu lahiran untuk memposisikan baby turun ke panggul.

Sabtu pagi itu saya lumayan jauh jalan-jalan paginya, karena ketemu dengan seorang Ibu yang juga lagi jalan pagi dengan suaminya, suaminya lari bolak-balik, si Ibu hanya jalan, jadinya ngobrol dengan saya.
Ternyata ibu adalah pemilik toko batik Rahma, dan setiap bulan menyetor batik ke Mirota Batik. Jadi ibu bercerita tentang bisnis batiknya dan juga mau merintis bisnis pakaian bayi. Wah, keren banget ini si ibu semangatnya..jadi malu dengan diriku sendiri yang bisnis batiknya angot-angotan. Suami ibu tadi seorang pensiunan di Pajak dan sekarang ngajar di UGM, so secara ekonomi sudah sangat mapan, jadi memang bisnis yang dijalani ibu itu udah seperti panggilan jiwa kali ya, tidak hanya untuk finansial. Si Ibu juga menjanjikan saya mau mencarikan yang bisa momong, ya udah hampir mau 2 bulan ini dirumah tidak ada mbak yang momong, jadi Affan full day school.

***
Sepulang jalan pagi, aktivitas seperti biasa. Cuman kita memang dirumah terus karena Affan baru mulai kamis terkena cacar air…hiks
Jam 6, magrib tiba-tiba saya merasa ada cairan yang keluar. Terus telepon kakak yang bidan, dan dikasih tahu kalau semakin banyak keluar bearti ketuban dan harus segera periksa. Benar saja setelah telepon, cairan ketuban semakin banyak keluar ke lantai dll, tanpa sadar saya teriak ke Ayah ngasih tahu. Lupa kalau di samping saya ada Affan. Sukseslah itu membuat Affan menangis. Jadinya kita nenangin Affan dulu bilang gapapa. Terus saya bilang ke Ayah : Yah, telepon Mas Toni (kakak saya) untuk minta anter ke RS trs Affan titipin Mas toni sm Muthia (anak mas toni, sepupu affan).
Dan ini dijawab sama Affan, sambil masih agak nangis : ‘Aku dititip Mbak muthia… aku sm mbak muth…Pak dhe toni’. Terus nangis manggil-manggil Pak Dhe Toni. Saya hanya duduk di tempat tidur, karena pernah baca kalau ketuban pecah dulu, harus meminimalisir gerak, agar gak semakin banyak keluar. Daaa.n…dodolnya saya..saya nunda2 nyiapin tas yang mau di bawa ke RS, jadinya kita sama sekali belum siap, saya ngasih tahu Ayahnya Affan apa aja yang mesti dibawa, yang penting-penting saja, tar bisa balik ambil. Pelajaran 1 : Jangan nunda2 nyiapin tas yang mau dibawa ke RS, kalau udah deket-deket dengan perkiraan kelahiran.
Dari kamar saya panggil Affan untun mendekat. Saya pegang pipinya, saya cium saya bilang : Affan, ibu minta maaf ya. Doain Ibu sama Adek ya.
Ya..ya…kondisi kayak gini, jadi teringat kalau pas saya lagi agak kurang sabaran sama Affan, jadi saya bener-bener minta maaf sama Affan. Dan Affan sambil mimbik-mimbik tiduran sambil mengelus dan memeluk perut saya…. ****ahhhh terharuuu. Terus saya bilang : Affan ambil tas sekolahnya, ini diisi baju buat ke tempat mbak muthia.
Dan affan pun ngambil tas sekolahnya dan mengisi sama baju-bajunya.
Tak Lama Mas toni datang pakai mobil pick up dan mb wulan (istrinya) pakai motor. Saya minta tolong mbak wulan untuk menyiapkan keperluan Affan selama nginep di rumahnya. Dan pas buka tas sekolah Affan, mb wulan bilang : “Ini kok baju hem-hem sekolah semua. Hihihi..terus saya bilang : Nha itu Affan yang masukin kok. Terus setelah Affan keperluannya udah masuk tas, dan Affan udah pakai jaket, kebetulan saya pas ke kamar mandi. Ternyata Affan sudah duduk di motor sama mb wulan. Saya kejar ke depan, sekali lagi saya minta maaf sama Affan dan minta didoain. Affan agak mimbik-mimbik, tapi gak nangis. Ach…Alhamdulillah Affan mengerti..jadi kami bisa tenang, karena Affan gak rewel mau ikut atau gimana2 dan mau ikut sm budhe nya…
Setelah Cek-cek kelengkapan yang dibawa, saya naik mobil sm kakak saya. Ayahnya Affan naik motor, biar bisa wira-wiri besok pas di RS. Dijalan air ketuban masih sesekali keluar. Sampai di jalan monjali, tiba-tiba mobil depan kita berhenti mendadak, untungnya mas toni waspada, jadinya ikut ngerem tapi tidak terlalu kencang, dan berhenti. Dan tiba-tiba dibelakang kita terdengar bunyi bruuuuuukkkkk..motor rubuh. Mas toni pas lihat ke spion dan teriak “ Ayahnya Affan”.

——
Deg, serasa jantung berhenti, serasa adegan sinetron paling horor, saya langsung teriak “ Ya Allah…Ayah… Ayah..”. Udahlah itu semua pikiran buruk muncul. Sampai lemas. Ngelihat kebelakang ada mobil2 berhenti, ada orang-orang berkumpul trs ngelihat ada yang berdiriin motor yang jatuh dan minggirin.

Mas Toni turun…dan Alhamdulillah Alhamdulillah… Ya Allah. Memang yang jatuh adalah Ayahnya Affan, tapi Alhamdulillah ayahnya Affan tidak apa-apa, ayah langsung menghampiri saya dan bilang : “aku gapapa gapapa, tenang-tenang”. Dan ternyata kejadiannya setelah mobil kaka saya berhenti, ayahnya affan yang pakai motor dibelakang juga berhenti, mobil belakang ayahnya juga berhenti, tetapi mobil yang dibelakangnya lagi menubruk mobil dibelakang ayahnya affan, dan motor ayahnya affan kedorong kedepan jadi jatuh. Alhamdulillah motor dan mobil belakang ayahnya affan posisi berhenti, sehingga meskipun jatuh, ayahnya Affan gapapa. Cuman tedeng bagian depan motor ada yang pecah. Alhamdulillah ya Allah.
Setelah itu orang-orang di dua mobil itu plus mas toni dan ayahnya affan masih pada berembug, kalau mobil yang menubruk yang paling belakang rusak agak lumayan di bagian depan. Dan saya tiba-tiba merasa ketuban keluar banyak…..dueeenggggg…serasa menginjak kembali kaki ke bumi dan sadar bahwa ini mau ke RS, ketuban sudah pecah dan harus segera ke RS. Sambil nangis saya panggil ayahnya Affan, saya takut juga jangan-jangan yang kita dituntut atau apa. Orang-orang sampai ngelihatin saya..hehe.
Kakak saya mengecek kondisi motor, alhamdulillah masih bisa jalan, hanya pecah di tedeng depan saja. Jadinya masih bisa dikendarai. Terus kita melanjutkan perjalanan ke RS Sardjito. Kakak saya bilang : udah ..tenang saja..yang tadi tidak usah dipikirin lagi. Alhamdulillah udah gapapa. Nanti kalau kepikiran malah gak bagus.
Ya ya..saya berucap untuk mensugesti diri yang memang masih shock dan kaget…”Lupakan tadi..Alhamdulillah semua baik-baik saja.
Sampai di Sardjito kami langsung menuju ke ruang maternal, dengan membawa surat pengantar melahirkan dari dokter pribadi. Jadi bagi yang mau melahirkan di RS Sardjito, harus sudah punya pengantar surat melahirkan dari SPOg ( istilahnya dokter spog pribadi), so kita bisa langsung ke bagian maternal tanpa ke UGD dulu dan nantinya ditangani oleh dokter pilihan kita.

Bersambung .

7 thoughts on “Cerita Melahirkan 1 : Menuju RS

  1. Wah … cerita menuju persalinan ini cukup membuat deg-degan ya Bu …
    saya tunggu kisah selanjutnya ya Bun …

    nanti kalau Mas Affan dan Dik Kaysa sudah bisa membaca … dan membaca kisah ini …
    saya yakin mereka akan semakin menyayangi Bunda dan Ayahnya

    Salam saya Bunaffkay

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s