teringat kisah Helen

Kemarin aku akhirnya mendapatkan juga buku novel yang berjudul Moga Bunda Di sayang Allah..setelah kemarin ketika mencari selalu kehabisan dan belum diterbitkan lagi..
Namun belum sempat kubaca..Aku tertarik dengan buku ini karena pengarangnya sama dengan novel yang diangkat dari tsunami aceh yaitu Hafalan Sholat Delisa..menurutku bagus sekali..sehingga aku juga mencari buku yang pengarangnya sama, buku ini terbitan republika..Yach, meskipun aku pernah dua kali hanya berbekal pengarang yang sama namun tulisannnya tidak seterkesan tulisan pertama, seperti ketika novel Ketika Cinta bertasbih, karena pengarangnya adalah penulis novel Ayat-ayat cinta, dan Harimau menunggang karena pengarangnya sama dengan pengarang Bolehkah Aku memanggilmu Ayah..namun di karya kedua yang kubaca tidak seterkesan karya pertama..
Tapi toh yang ini tetap aku tertarik..dan moga tetap bagus seperti di novel, Hafalan Sholat Delisa..Hmm..sesuatu kisah tentang bunda pasti selalu mengharu biru..
Di novel Moga Bunda Di Sayang Allah baru kubaca catatan penulis dibelakang, bahwa cerita ini diilhami oleh kisah nyata Hellen Keler yang bisu, tuli dan buta dan dibawah bimbingan gurunya Anna Sulivan akhirnya bisa berbuat banyak hal dan mengerti tulisan, benda-benda..
Membaca ini aku jadi teringat kisah Hellen keler dan gurunya Anna Sulivan pernah dimainkan dramanya oleh tokoh maya Kitajima dan Ayumi dalam komik Topeng Kaca Bidadari merah yang sangat terkenal ketika kita SMP..yaitu komik tentang drama dan teater
Meski komik namun banyak pelajaran yang bisa diambil seperti kerja keras, bersungguh-sungguh mencapai cita, persahabatan, dan penceritaan yang sangat bagus dalam drama…seperti membaca cerita dalam cerita
Hmm..meski belum membaca novel Moga Bunda Disayang Allah, sepertinya ini kisah yang sama dengan helen keler yang akhirnya bisa berbuat banyak hal bagi orang lain meskipun mempunyai kekurangan kondisi fisiknya
JAdi teringat dengan pianis korea yang beberapa waktu yang lalu konser dijakarta, ketika itu aku melihat liputannya di SCTV, pianis itu bernama Hee Ah Lee yang mempunyai keterbelakangan mental namun mampu menjadi seorang pianis yang handal..Siapa dibelakang kesuksesan Hee Ah Lee? Yah, tentu saja Ibu Hee Ah Lee sangat berperan besar dalam hal ini..
Kesabaran dan ketabahannya mendidik putrinya, mengantarkan putrinya menjadi pianis kondang di Korea..
Jadi teringat salah satu lembar Novel Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy terdapat sebuah puisi seperti berikut ini..

Oh Ibu Jika Engkau adalah matahari
Aku tak ingin datang malam hari
Jika Engkau adalah embun Aku ingin selalu pagi hari
Ibu
Durhakalah aku
Jika ditelapak kakimu Tidak aku temui Surga itu

Dari penggabungan dua petikan sajak Fatin Hamama dengan judul ‘Aku Ingin Ibu’ dan ‘Ibu (3)’ yang terdapat dalam kumpulan puisinya “Papyrus”.

Teriring salam untuk Ibuku dan seluruh Ibu di dunia ini…
seperti judul buku yang baru kudapatkan..teriring doa..
…….Moga Bunda di Sayang Allah……
selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s